Penulis Dio Dananjaya | Editor Azwar Ferdian
JAKARTA, KOMPAS.com – Emisi kendaraan tengah menjadi isu menarik belakangan ini. Terutama setelah pemerintah mengeluarkan beberapa target dan rencana untuk meratifikasi Paris Agreement maupun Net Zero Emission pada 2060. Penetapan standar emisi ke arah yang lebih tinggi rupanya tidak hanya berdampak pada semakin bersihnya mobil-mobil yang beredar di Tanah Air, tapi juga menambah tujuan ekspor kendaraan ke berbagai negara di dunia. Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin, mengatakan, standar emisi Indonesia yang masih menerapkan standar emisi Euro 4 tertinggal dengan negara lain.
Uji emisi kendaraan roda empat di Depok, Selasa (16/11/2021). Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok memberikan layanan uji emisi kendaraan roda empat secara gratis selama tiga hari ke depan.(KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO)

Sejumlah negara tujuan ekspor bahkan sudah menerapkan Euro 6. Kondisi inilah yang membuat mobil-mobil buatan Indonesia ditolak negara lain. Paling baru adalah Honda Brio yang sebelumnya diekspor ke Filipina dan Vietnam. Mobil terlaris di Indonesia pada semester I/2022 itu sekarang hanya dikirim ke satu negara saja karena terganjal aturan emisi. "Kita baru mengejar mempersiapkan produk Euro 4 biar bisa diekspor ke beberapa negara, sementara negara-negara lain seperti Vietnam mengadopsi teknologi lebih baru lagi,” ujar Puput, sapaan akrab Ahmad Safrudin, disitat dari siaran Youtube Info KPBB (29/8/2022). Baca juga: Daftar 5 Wilayah di Indonesia dengan Populasi Mobil Terbanyak “Vietnam tahun 2022 standarnya Euro 5. Otomatis kita tidak bisa ekspor kendaraan bermotor standar Euro 4," kata dia. Puput juga mengatakan, sudah banyak negara di dunia, baik di Asia, Timur Tengah, hingga Eropa dan Amerika telah mengadopsi standar emisi yang lebih tinggi. Bahkan, kini standar emisi sudah sampai Euro 6, sementara Indonesia baru menerapkan Euro 4 untuk diesel tahun 2022 ini.

Foto Pekerja merakit komponen mobil di pabrik baru Isuzu, di Karawang, Jawa Barat, Selasa (7/4/2015). Pabrik Isuzu Karawang Plant berlokasi di kawasan Suryacipta City of Industry ini memiliki kapasitas produksi 52 ribu unit per tahun dan dapat dikembangkan menjadi 80 ribu unit per tahun.(TRIBUNNEWS / HERUDIN) "Standar euro kita terlambat untuk kita adopsi. Konsekuensinya tidak hanya soal lingkungan, tapi juga dalam konteks persaingan dagang,” ucap Puput. “Banyak negara-negara di dunia melakukan strategi menggunakan standar emisi sebagai hambatan perdagangan baru dengan menggunakan isu lingkungan," tutur dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tersangkut Standar Emisi, Ekspor Mobil Indonesia Bisa Terhambat", Klik untuk baca: https://otomotif.kompas.com/read/2022/08/29/170100915/tersangkut-standar-emisi-ekspor-mobil-indonesia-bisa-terhambat.
Penulis : Dio Dananjaya
Editor : Azwar Ferdian





