Home Profil Berita Download Hubungi Kami
Updated: 03 April 2017
Konferensi Pers Paparan Permen LHK tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M N dan O - 03042017
Bahan BeritaPeraturan Menteri LHK tentangBaku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N dan OPertumbuhan pada sektor transportasi yang tinggi telah berdampak pada kenaikan tingkat kemacetan, polusi udara dan kebutuhan energi. Ketiga dampak tersebut telah menyebabkan biaya ekonomi tinggi, penurunan kesehatan ...
Updated: 20 January 2017
Invitation Stakeholder Workshop To Combat Air Pollution_Breathe Easy Jakarta
Salam lestari, Dalam rangka melawan pencemaran udara, “Breathe Easy Jakarta: Developing an Urban Air Quality Management Program in Jakarta” dilaksanakan pada 2011 – 2016.  Program ini merupakan  kerjasama ...
Dukung Penggunaan Bio-Ethanol Sebagai Bahan Alternatif Pengganti Timbel di Indonesia Siaran Pers | Kliping
Galeri Foto
Gabung Milis
 
 
Komunitas Green Club
Komunitas
Updated: 04 January 2013
Limbah Aki Bekas Cemari Desa Cinangka


Limbah Aki Bekas Cemari Desa Cinangka

E-mailPrint option in slimbox / lytebox? (info)PDF

Anak-anak di Desa Cinangka, Bogor, Jawa Barat tidak sadar bahaya racun logam timah hitam alias timbel mengintai mereka. Dua bukit yang mengapit sungai kecil itu terdapat gundukan sisa limbah peleburan aki bekas. Kertas dan lempengan plastik timah menyembul dari sela-sela tanah di sepanjang sungai.

Tahun ‘80-an, Desa Cinangka menjadi pusat peleburan aki bekas. Bahkan, kegiatan peleburan aki menjadi industri rumahan. Di tengah pemukiman, warga membakar timah tanpa cerobong asap dan saringan pembuangan emisi. Akibatnya, udara tercemar. Seorang warga, Mulyadi, bercerita, akibat aktivitas peleburan aki, langit di atas Cinangka kala itu sampai diselimuti kabut hitam.

“Kalau keganggu sih, cukup keganggu sekali, jam 9 udah gak berani keluar, udah gak kuat nafasnya. Pencemaran air juga, semacam bulu-bulunya air aki bikin gatel, Kalau sesak, sesak nafas, sering terjadi batuk-batuk,” kata Mulyadi.

Karena tak tahan paparan timbel, sekitar 10 tahun lalu, warga Cinangka merangsek Kantor Camat setempat. Mereka mendesak pemda Bogor melarang dan menutup semua usaha peleburan aki bekas di tengah pemukiman warga. Salah satu pemrotes, Rachmat mengatakan, warga merasa terganggu.

“Yang protes  bukan warga sini aja, luar dari desa juga banyak. Kena keganggu asapnya, hawanya kan laen, bau, nanem penyakit. Itu kan asapnya terlalu deket ke sini, kalau lagi tidur keganggu, rumah ditutup semua. Asep sih bisa masuk,” tambah Rachmat.

Sejak aksi protes itu, seluruh kegiatan peleburan aki bekas pun ditutup oleh pemda Bogor. Karena itu, warga yakin, tidak ada lagi pencemaran timbel yang tersisa. Namun, sisa limbah yang dibiarkan teronggok masih mengandung kadar timah yang tinggi. Ini pun berdampak pada anak-anak, kata anggota Tim Investigasi Komite Penghapusan Bensin Bertimbal, KPBB, Alfred Sitorus.

“Kadar timbel dalam darah anak dan tanah sudah dalam level kritis, toleransi untuk kadar timah hitam atau timbel, standar WHO 10 mikrogram per desiliter, tapi kami tidak menemukan hasilnya di angka 10 atau 10, tapi berada di angka 25 ke atas, bahkan HI, high level index, jadi sudah tidak bisa deteksi kadar timbal dalam darah anak-anak,” papar Alfred.

Anggota Tim Investigasi KPBB, Alfred Sitorus menegaskan  perlu kerja keras untuk membersihkan Desa Cinangka dari pencemaran Timbel. JIka tidak, semakin banyak anak-anak disana yang terpapar timbel.

http://www.greenradio.fm/news/latest/4392-limbah-aki-bekas-cemari-desa-cinangka- 

 

Agenda
Video
 
 
Links
 

hak cipta 1999-2006 KPBB, semua hak dilindungi undang-undang
boleh mengcopy atau menyebarluaskan dengan mencantum sumbernya