Home Profil Berita Download Hubungi Kami
Updated: 04 October 2017
Jakarta Air Pollution: Ancaman Asian Games 2018
Factsheet Seri Asian Games 2018 ...
Updated: 10 August 2017
Vehicular Emission: Threat Asian Games 2018
Berita baiknya adalah Pemerintah RI melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menandatangani Permen No P20/2017 tentang Euro4 Standard pada 10 Maret 2017.  Sementara berita buruknya adalah Menteri Perindustrian melabrak 3 bulan kemudian ...
Dukung Penggunaan Bio-Ethanol Sebagai Bahan Alternatif Pengganti Timbel di Indonesia Siaran Pers | Kliping
Galeri Foto
Gabung Milis
 
 
Komunitas Green Club
Komunitas
Updated: 04 January 2008
Hasil Pemantauan Bahan Bakar 2006


“Pada tahun ini telah ada penurunan kadar timbel dalam bensin secara signifikan di Indonesia”

Berdasarkan hasil dari pemantauan kualitas bahan bakar bensin premium dan solar di 20 kota di Indonesia yang dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan KPBB ditemukan fakta bahwa kandungan rata-rata timbel dalam bensin di Indonesia adalah 0.038 gr/l. Bila dibandingkan dengan hasil pemantauan tahun 2005 lalu didapatkan penurunan tajam rata-rata timbel dalam bensin. Tahun 2005 lalu rata-rata kandungan timbel dalam bensin di Indonesia adalah 0.133 gr/l, sementara tahun 2006 ini rata-rata kandungan timbel dalam bensin adalah 0.038 gr/l. Ini berarti ada penurunan sebesar 0.095 gr/l atau setara dengan 71.43%. Rata-rata kandungan timbel bensin tertinggi masih ditemukan di Palembang (0.149 gr/l), namun tahun ini telah ada penurunan tajam kadar timbel dalam bensin di kota Palembang dibandingkan dengan tahun lalu. Untuk kota-kota yang berada di pulau Jawa laju penurunan kadar timbel dalam bensin dapat dikatakan cukup konstan. Sementara untuk wilayah timur Indonesia seperti di Makassar, Manado dan Palu telah dipasok dengan bensin tanpa timbel, sementara untuk Ambon dan Sorong masih ada pasokan bensin dengan kadar timbel yang melebihi 0.013 gr/l. Sementara untuk angka oktan (RON) pada bensin rata-ratanya adalah 89.4, dapat dikategorikan cukup baik dengan didasarkan pada spesifikasi yang dikeluarkan oleh Dirjen MIGAS sebesar 88.

Untuk solar, rata-rata kadar belerang pada solar di 20 kota di Indonesia adalah 1516 ppm. Bila dibandingkan dengan tahun lalu, ada beberapa kota yang mengalami kenaikan rata-rata belerang seperti Jakarta, Batam, Palembang dan Yogyakarta. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2005 lalu rata-rata belerang pada solar di Jabodetabek adalah 1000 ppm sementara pada tahun ini rata-ratanya adalah 2700 ppm. Sebaliknya, penurunan kadar belerang pada solar ditemukan dibeberapa kota seperti yang terjadi di Bandung. Pada tahun 2005 lalu rata-rata belerang pada solar di Bandung adalah 2950 ppm, namun pada tahun ini rata-ratanya adalah 700 ppm. Semetara rata-rata dari index setana berdasarkan hasil pemantauan adalah 54.5. rata-rata tersebut masih berada diatas spesifikasi bila dibandingkan dengan spesifikasi untuk solar jenis regular yang keluarkan oleh Migas, yaitu sebesar 45.

Kesimpulan dari pemantauan kualitas bahan bakar 2006 adalah sebagai berikut:

  1. Sebagian wilayah masih dipasok bensin bertimbel
  2. Kota Padang, Mataram, Kupang, Makassar, Palu dan Manado telah dipasok bensin tanpa timbel
  3. Kota Ambon dan Sorong masih ditemukan bensin dengan kadar timbel yang melebihi 0.013 gr/l
  4. Angka Oktane bensin yang dipasarkan cukup memadai
  5. Sebagian wilayah masih dipasok solar berkadar belerang di atas 1900 ppm dengan range minimum 700 ppm dan maksimum 3300 ppm. Terjadi peningkatan kadar belerang dibandingkan 2005
  6. Index Cetane pada solar masih dalam kisaran 47 hingga 67 dengan nilai rata-rata 55.61
  7. Telah ada itikad baik dari Pertamina untuk mewujudkan bensin tanpa timbel secara nasional.
Agenda
Video
 
 
Links
 

hak cipta 1999-2006 KPBB, semua hak dilindungi undang-undang
boleh mengcopy atau menyebarluaskan dengan mencantum sumbernya